Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Paparkan Program Kemdikdasmen dalam Diskusi Pendidikan di Untirta

Serang, 4 Mei 2026 — Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Drs. Imam Budi Utomo M.Hum., memaparkan arah kebijakan pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) dalam kegiatan Diskusi Pendidikan bertajuk Peran Literasi dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan yang diselenggarakan pada 4 Mei 2026 di Auditorium Untirta Sindangsari. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Literasi Untirta (Pelita).

Dalam paparannya, Imam Budi Utomo menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong terwujudnya pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, literasi merupakan kompetensi dasar yang menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, kebijakan Kemdikdasmen berfokus pada penguatan kemampuan membaca peserta didik, penyediaan bahan bacaan bermutu, serta pendampingan bagi guru dan satuan pendidikan.

Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa implementasi kebijakan tersebut dilaksanakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa beserta unit pelaksana teknis (UPT) di bawahnya, termasuk Kantor Bahasa Provinsi Banten. Dicontohkan oleh Imam, pada aspek penguatan kemampuan membaca, Kantor Bahasa Provinsi Banten telah melaksanakan sejumlah program, antara lain kegiatan cerdas mengulas buku untuk jenjang sekolah dasar, peningkatan kompetensi membaca cepat bagi peserta didik SMP, serta peningkatan kompetensi membaca kritis dan analitis bagi peserta didik SMA. Program-program tersebut tidak hanya dilaksanakan di Provinsi Banten, tetapi juga menjangkau wilayah DKI Jakarta.

Narasumber berikutnya, Dekan FKIP Untirta, Dr. Fadlulloh, M.Si., menyoroti pentingnya literasi bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Ia menjelaskan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, serta mengevaluasi informasi secara kritis. Dalam era digital yang sarat dengan arus informasi, generasi muda dituntut untuk memiliki kecakapan literasi yang kuat agar mampu memilah informasi yang valid, menghindari disinformasi, serta berkontribusi secara positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Fadlulloh juga menekankan bahwa penguatan literasi perlu dilakukan secara kolaboratif antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan penggerak budaya literasi, sementara sekolah menjadi garda terdepan dalam membentuk kebiasaan literasi peserta didik sejak dini.

Diskusi ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta para pegiat literasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan literasi di berbagai jenjang pendidikan.

Scroll to Top